Apakah Cokelat Memicu Flare Atopik Pada Anak?
"Mungkin aku seharusnya tidak memberinya cokelat kemarin."
Kalimat seperti ini sering muncul di benak banyak orang tua ketika melihat kulit anak kembali merah atau lebih sering digaruk.
Rasa bersalah adalah hal yang sangat manusiawi.
Terlebih ketika Mom sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk anak.
Namun sebelum menyalahkan diri sendiri, mari lihat situasinya dengan lebih tenang.
Ketika Flare Muncul Setelah Anak Makan Cokelat
Bayangkan situasi berikut.
Hari Sabtu anak mendapat hadiah cokelat dari keluarga.
Anak terlihat senang dan menikmati camilan tersebut.
Keesokan harinya kulit mulai tampak lebih merah dari biasanya.
Mom langsung menghubungkan kedua kejadian tersebut.
Ini sangat wajar.
Masalahnya, hubungan waktu tidak selalu berarti hubungan penyebab.
Mengapa Orang Tua Mudah Mengingat Cokelat?
Karena cokelat adalah makanan yang mudah diingat.
Kita mungkin lupa sayur yang dimakan anak tiga hari lalu.
Tetapi kita lebih mudah mengingat ketika anak mendapat cokelat.
Akibatnya, cokelat sering menjadi tersangka utama meskipun belum tentu menjadi penyebab sebenarnya.
Kadang Ada Faktor Lain Yang Terlewat
Saat mencoba mengingat kembali hari tersebut, mungkin ternyata:
- Cuaca sedang sangat panas
- Anak banyak berkeringat
- Tidur lebih larut dari biasanya
- Sedang pilek ringan
- Bermain lebih aktif sepanjang hari
Semua faktor ini juga dapat memengaruhi kondisi kulit.
Jangan Membuat Keputusan Saat Sedang Panik
Ketika flare muncul, banyak orang tua langsung ingin menghilangkan berbagai makanan sekaligus.
Padahal keputusan yang dibuat saat panik sering kali membuat observasi menjadi lebih sulit.
Semakin banyak hal yang diubah sekaligus, semakin sulit mengetahui faktor mana yang sebenarnya berhubungan dengan perubahan kondisi kulit.
