Apakah Gandum Memicu Flare Atopik Pada Anak?
Ketika anak mengalami flare, banyak Mom langsung mulai membuat daftar makanan yang dicurigai.
Salah satu yang cukup sering masuk daftar tersebut adalah gandum.
Namun sebelum roti, biskuit, atau mi berbahan gandum dijadikan tersangka utama, ada beberapa hal yang perlu dipahami terlebih dahulu.
Mitos #1: Jika Flare Muncul Setelah Makan Gandum, Berarti Gandum Penyebabnya
Ini adalah kesimpulan yang paling sering terjadi.
Misalnya anak makan roti pagi hari, lalu malamnya kulit terlihat lebih merah.
Secara alami otak kita akan menghubungkan kedua kejadian tersebut.
Padahal belum tentu keduanya memiliki hubungan langsung.
Pada hari yang sama bisa saja terdapat faktor lain seperti:
- Cuaca yang lebih panas
- Keringat berlebih
- Kurang tidur
- Debu rumah
- Produk kulit yang baru digunakan
Karena itu, urutan waktu tidak selalu berarti penyebab.
Mitos #2: Semua Anak Atopik Harus Menghindari Gandum
Tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua anak.
Setiap anak memiliki pola flare yang berbeda.
Apa yang menjadi masalah pada satu anak belum tentu memberikan pengaruh yang sama pada anak lainnya.
Karena itu, keputusan mengenai makanan sebaiknya tidak hanya berdasarkan pengalaman orang lain.
Mitos #3: Semakin Banyak Makanan Dihilangkan, Semakin Baik
Saat panik menghadapi flare, sebagian orang tua mulai menghilangkan banyak makanan sekaligus.
Masalahnya, ketika flare membaik, menjadi sulit mengetahui faktor mana yang sebenarnya berhubungan dengan perubahan tersebut.
Observasi yang terstruktur biasanya lebih membantu dibanding menghilangkan banyak makanan sekaligus tanpa pencatatan.
Jadi Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?
Daripada langsung menyalahkan gandum, Mom dapat mulai melakukan observasi sederhana.
Catat:
- Kapan gandum dikonsumsi
